Baccarat play and rules_Indonesia's most popular online gambling game_Baccarat Casino_Indonesia Lottery Results_Football betting rules

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Belanda online kasino

“OranBaccarat Probability Playg tua tidaBaccarat Probability Playk sBaccarat Probability Playetuju. Orantuaku pengin aku segera menikah dan punBaccarat Probability Playya anak. Meski aku pernah membahas nggak pengin menikah, dengan nada becandaan, tapi orang tua bilang ‘Jangan, kamu nggak boleh begitu, menolak rezeki anak pertama.’ Tapi ya aku cuma menanggapi dengan senyum,” ungkapnya, Rabu (1/9).

Sebenarnya, keputusan orang untuk childfree tidak bisa langsung diartikan sikap egois. Soalnya, mereka yang memilih childfree punya alasan dan pertimbangan kuat, bukan sekadar ikut-ikutan atau nggak mau susah mengasuh anak. Supaya tak mudah menghakimi dan pelan-pelan bisa menghormati keputusan orang lain, kita perlu mendengarkan orang yang memilih childfree dan belajar memahaminya. Bisa jadi, apa yang kita anggap buruk belum tentu buruk untuk orang lain lo.

Apa yang dilakukan Maysa adalah kunci ketika orang memilih chidlfree. Pilihan untuk punya anak atau tidak tentu punya konsekuensi. Keputusan ini perlu diambil dengan sadar dan bertanggung jawab. Tak kalah penting, keputusan soal memiliki anak harus disepakati dari awal oleh dua orang yang berkomitmen melanjutkan hubungan ke tahap yang lebih serius.

Bagi Maysa, pilihan ini jauh lebih minim risiko. Apalagi mentalnya tidak siap bila mempunyai momongan. Bayang-bayang tanggung jawab yang besar dan beban hidup sukses membuatnya enggan memiliki anak.

Punya pandangan berbeda soal anak, Maysa Maharani harus menerima penolakan dari orangtua, meski secara tersirat. Keputusan dan pilihan yang tak lazim bagi sebagian besar orang, tetap dijalaninya. Ia dan pasangannya memang belum menikah. Tapi keduanya sudah memutuskan menjajaki hubungan serius. Keduanya pun udah tuntas bicara soal punya anak atau tidak.

Setelah dibicarakan dan titik kesepakatan ditemukan, pasangan dapat menjalani hubungan komitmen dengan bahagia, apa pun pilihan yang diambil. Selama keduanya sepakat dan mau, sadar akan risikonya,  rumah tangga tanpa anak dan bahagia itu bukan tidak mungkin terjadi kan?

Alasan orang memilih tak punya anak | Photo by J carter on Pexels

Sementara itu, kebanyakan generasi X dan baby boomer justru menyayangkan keputusan orang-orang yang memilih childfree. Bagi mereka, pasangan suami-istri sudah semestinya memiliki buah hati. Selama ini, keluarga yang sesungguhnya terdiri dari suami, istri, dan anak. Sebuah keluarga yang hanya terdiri suami-istri dianggap masih tabu dan aneh. Bahkan tak sedikit orang yang menilai pilihan childfree itu bentuk keegoisan diri. Di masyarakat kita, anak dimaknai sebagai pembawa rezeki. Ketika orang memilih childfree, ia dinilai menolak rezeki yang datang.

Masih ingat soal Gita Savitri dan Cinta Laura beberapa waktu lalu? Ya, kedua selebritas itu jadi topik perbincangan lantaran blak-blakan soal childfree. Cinta Laura sudah memutuskan tidak memiliki anak ketika menikah kelak. Sedangkan Gita Savitri yang kini telah menikah, juga memilih childfree. Sebenarnya bahasan childfree bukan hal baru dan asing. Tapi, pernyataan terbuka dari dua selebritas itu menyebabkan topik childfree bergulir panas, terutama di dunia maya.

Beberapa orang yang memilih childfree punya pandangan lain. Faktor lingkungan dan masa depan bumi jadi pertimbangan. Melihat populasi manusia makin banyak dan bumi makin sesak, masalah lingkungan dan pemanasan global jadi ancaman. Apalagi dalam krisis iklim anak-anak jadi korban yang paling rentan. Nah, di sisi lain, kesehatan mental dan penyakit bawaan pun kerap jadi alasan orang memutuskan childfree. Karena situasi yang sulit dan tidak memungkinkan, mereka memilih tidak punya anak.

Mempunyai anak adalah perkara yang tidak mudah. Apalagi anak adalah titipan Tuhan yang harus dijaga sebaik mungkin. Dibutuhkan tanggung jawab yang besar untuk menjadi orangtua. Bahkan muncul ungkapan “menjadi orangtua adalah pekerjaan seumur hidup”. Jadi, bukan masalah sekadar punya anak, melainkan bagaimana menjaga dan membesarkan anak dengan layak. Jika tidak punya kesiapan yang baik, orangtua hanya akan membuat anak hidup menderita. Inilah yang jadi pertimbangan utama oleh mereka yang memilih childfree.

Saat menerima respons orangtuanya, Maysa cuma senyum-senyum saja dan enggan melanjutkan perbincangan. Walaupun jelas-jelas orangtuanya menolak, Maysa tetap teguh dengan pendiriannya. Menurutnya, ia yang menjalani hidup ini sepenuhnya. Jadi, ia adalah orang paling berhak menentukan keputusan.

Punya anak atau tidak? Harus disepakati dulu dengan pasangan | Illustration by Hipwee

Namun, Maysa tak bisa mengelak kalau pilihan childfree memang nggak gampang dijalani. Stigma negatif, omongan tetangga, sindiran teman, dan penolakan keluarga tentu jadi bayang-bayang yang menghantui. Orangtua Maysa yang masih beranggapan kalau anak adalah pembawa rezeki, menolak keputusan Maysa. Menurut orangtuanya, Maysa menolak rezeki yang datang.

Harap beli akses artikel ini atau berlangganan   untuk melanjutkan

“Aku kan generasi sandwich sebenarnya. Aku masih punya adik. Apalagi adikku down syndrome. Ketika papa-mamaku nggak ada, otomatis aku yang ngurus adik. Kalau aku menikah dan punya anak, aku akan jadi generasi sandwich. Artinya, selain membiayai orang tua, aku harus membiayai anakku nanti. Kan jadi beban berat untukku sendiri. Dengan pertimbangan itu, aku memilih untuk childfree,” terangnya.

Apakah orang yang memiih childfree egois? | Photo by Gustavo Fring on Pexels

Menuai pro dan kontra, keputusan childfree memang masih belum diterima sepenuhnya di Indonesia. Norma agama dan normal sosial jadi alasannya. Keputusan tidak punya anak dianggap menyalahi nilai-nilai tersebut. Bahkan orang yang memilih childfree dinilai egois karena enggan mempunyai dan mengasuh anak. Tak jarang orang disebut sebagai pribadi yang buruk gara-gara pilihannya untuk childfree. Padahal keputusan childfree adalah preferensi. Sama seperti preferensi orang yang memilih menikah atau tidak. Jadi nggak ada kaitannya sama sekali dengan sifat baik-buruk seseorang.

Kondisi finansial dan latar belakang keluarga juga jadi pemicu lain yang bikin orang memilih childfree. Seperti Maysa Maharani (23 tahun). Ia dan pacarnya sepakat untuk childfree.  Pasalnya, Maysa yang lahir sebagai pertama harus menjadi tulang punggung keluarga. Ia masih harus membiayai sang adik dan orangtuanya. Pun begitu dengan sang pacar. Memiliki anak bukan pilihan tepat karena mereka tidak siap secara finansial.

Beruntungnya, Maysa bertemu dengan pasangan yang sepemikiran dengannya. Meskipun mendapat penolakan dari orangtua, Maysa memiliki pasangan setia yang mendukungnya. Dua-duanya cukup terbuka membahsa soal anak. Sehingga masing-masing telah saling sepakat untuk childfree.

Anggapan “banyak anak banyak rezeki” udah mulai bergeser. Bagi banyak anak muda yang masuk generasi milenial dan gen Z, memiliki buah hati bukan lagi prioritas utama setelah menikah. Singkatnya, anggapan soal banyak anak udah nggak zaman lagi. Pilihan untuk childfree atau tidak memiliki anak malah semakin tinggi.

“Pasanganku tahu, dan kita sudah mendiskusikannya berdua. Dia 100% setuju. Ia juga tidak masalah. Baginya, keputusan punya anak atau tidak ada di aku karena aku yang akan mengandung dan melahirkan,” ujar Maysa.